Tatkala Dahlan Iskan Beralaskan Tikar

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, di setiap kesempatan selalu menjadi perhatian masyarakat, karena perilaku dan tindakannya yang seringkali di luar kebiasaan seorang pejabat negara.

Biasanya seorang pejabat negara di negeri ini dalam suatu kunjungan kerjanya selalu meminta atau disuguhi fasilitas yang berkelas, mulai dari tempat kegiatan acara tertentu, tempat bersantap, hingga fasilitas penginapan.

Tidak demikian bagi seorang Dahlan Iskan, yang juga pemilik kelompok bisnis multumedia massa Jawa Pos Group. Ia justru lebih nyaman mendekatkan diri dengan kalangan bawah sesuai dengan latar belakangnya yang berasal dari keluarga bersahaja.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) dan Protokoler Kementerian BUMN, Faisal Halimi, mengatakan pada Kamis ini bahwa Dahlan Iskan melakukan serangkaian kegiatan di Kota Gudeg, Yogyakarta.

Rangkaian kegiatan Pak Menteri adalah seminar soal "Pemimpin Muda, Belajar Merawat Indonesia", seminar "Program Rightsizing BUMN" di Kampus Universitas Gajah Mada (UGM), dan pencanangan gerakan Pro-Beras BUMN di Dusun Seworan, Kelurahan Triharjo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dahlan Iskan tiba di kota Gudeg tersebut pada Rabu malam (28/3). Untuk menghabiskan waktu malam itu, mantan Direktur Utama PT PLN (Persero) tersebut memilih menginap di rumah Hadi Sumarto (60) dan Sarjiyah (57), warga Dusun Seworan RT18/RW8, Desa Triharjo, Kecamatan Wates, Kulonprogo.
Hadi dan Sarjiyah, pasangan suami istri yang sehari-harinya  menjadi buruh tani tiba-tiba saja kedatangan Dahlan yang ingin bermalam di rumahnya, yang berlantai tanah dan dinding dari anyaman bambu atau gedhek dalam bahasa Jawa.

"Kami tidak ada persiapan apa-apa, hanya membersihkan beberapa bagian rumah. Biasa saja tidak ada bagian yang saya ganti. Kami senang sekali Pak Menteri mau menginap di rumah kami," ujar Hadi.

Wajah Hadi terus berseri-seri mengetahui seorang menteri akan menginap di rumah miliknya yang berukuran 10m x 7m persegi tersebut. Saat ditanyakan siapakah tamu yang akan berkunjung ke rumahnya, yang masih mempertahankan bangunan khas Jawa berupa bentuk atap limas tersebut, ia mengaku bahwa sebelumnya tidak mengetahui sosok Dahlan Iskan.
"Kami tidak tahu Pak Dahlan Iskan itu siapa, baru tahu ya saat melihat berita di televisi," ujarnya.
Dahlan tiba di kediaman Hadi Sumarto sekitar pukul 00.15 WIB bersama lima orang rombongan, yakni staf Kementerian BUMN, Direktur Utama PT Sang Hyang Seri (Persero), Eddy Budiyono, Direktur Pemasaran PT Sang Hyang Seri, Kaharudin, Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, Winarno Tohir.

Kunjungan Dahlan Iskan juga disambut Wakil Bupati Kulonprogo, Sutedjo, bersama kepala satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) Pemerintah Kabupaten Kulonprogo.
Malam itu memang menjadi hari yang tidak akan terlupakan bagi Hadi Sumarto dan keluarga.
Tujuan kedatangan Dahlan untuk bermalam dan mengunjungi desa tersebut guna meninjau tanam perdana areal binaan progam Pro-Beras BUMN dari PT Sang Hyang Seri di Bulak Seworan, Desa Triharjo, Wates, Kulonprogo, Yogyakarta, pada keesokan harinya.

Begitu tiba di kediaman Hadi, Dahlan Iskan sudah disambut secara sederhana, jika dibandingkan sambutan di hotel-hotel berbintang.
Dahlan terlihat nyaman menanggapi obrolan pemilik rumah, meskipun hanya duduk bersila beralaskan terpal dan tikar di dalam rumah sederhana berdinding bambu saja.
Obrolan mereka semakin hangat, ketika beberapa makanan kecil khas daerah dan hasil bumi, seperti tempe benguk, geblek, ubi dan sajian wedang secang disajikan menggunakan tampah (tempat makan dari anyaman bambu).

"Dalem nipun sae Pak Hadi. Rapi," ujar Dahlan, memuji rumah Pak Hadi yang disebutnya bagus.
Menteri yang akrab dengan sepatu kets dan baju putih lengan panjang tergulung itu agaknya terkesan dengan atap rumah Hadi yang terbuat dari susunan bambu tersusun rapi.
Meskipun raut wajahnya sudah menunjukkan kondisi badan yang lelah setelah seharian beraktivitas, di Jakarta, Dahlan tetap melayani obrolan dengan pemilik rumah maupun dengan wakil bupati serta kepala desa setempat secara santai, bahkan penuh canda.

Dalam dialog tersebut, Hadi pun menjelaskan terkait pekerjaan dan kondisi kehidupannya.
"Kulo mboten gadah sabin, namung buruh hasilipun maro, luasipun 1.800 meter, angsale 10 karung. Hasilipun mboten disade, namung cekap ngge maem saben dinten. Menawi disade, namung ngge tumbas rabuk," ujar Hadi dalam bahasa Jawa. Artinya: "Saya tidak punya sawah, hanya buruh yang hasilnya dibagi dua, luasnya 1.800 meter dengan hasil bagian 10 karung. Hasilnya tidak pernah dijual, namun cukup untuk makan sehari-harinya. Bila dijual, maka hanya untuk beli pupuk."

Tidak terasa waktu terus berlalu dan semakin larut. Waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB. Karena sudah merasa lelah, Dahlan meminta agar obrolan tersebut diakhiri untuk selanjutnya dapat beristirahat.
"Monggo (mari) kita akhiri dulu obrolannya. Kita beristirahat, tidur dulu besok pagi dilanjutkan lagi," ucap Dahlan.
Sebelum pamit untuk beristirahat, Dahlan sempat berganti kaos warna ungu, dan merebahkan diri di tempat semula yang digunakan untuk ngobrol.
Pria kelahiran Magetan pada 17 Agustus 1951 itu tidak mau menempati tempat tidur berkasur empuk yang sebelumnya sudah disediakan oleh tuan rumah. Dahlan justru memilih tidur beralasakan tikar bersama Direktur Utama Sang Hyang Sri dan Wakil Bupati Kulonprogo.

Kemudian, pagi-pagi buta sekitar pukul 04.30 WIB rombongan terbangun setelah mendengar suara adzan Subuh.
Dahlan Iskan tidak ingin ketinggalan shalat Subuh berjamaah. Dirinya bergegas berjalan menuju masdjid Nurul Hidayah yang berada di desa sebelah, yakni di Pedukuhan Garang, Desa Tawangsari, Kecamatan Pengasih, berjalan kaki yang berjarak sekira 400 meter.
Saat ditanya dengan alasan kenapa Dahlan memilih menginap di rumah warga? Ia mengatakan, jika apa yang dilakukannya merupakan salah satu penghayatan riil dengan kehidupan para petani.
"Semalam tidurnya nyenyak sekali, sangat nyaman. Ini bukan pertama kalinya saya menginap di rumah warga, saya juga tidak mencari kepuasan. Ini merupakan bagian penghayatan riil terhadap apa yang dirasakan dan dialami oleh orang seperti Pak Hadi," ujar Dahlan.

Selesai melaksanakan shalat subuh, Dahlan segera kembali menuju kediaman Hadi untuk berganti pakaian menggunakan kaos ungu dilapisi kemeja putih dan mengenakan sepatu kets guna melanjutkan aktivitas olahraga jalan kaki. Rute yang ditempuh sekitar tiga kilometer menyusuri perkampungan dan pematang sawah.
"Ini merupakan kunjungan pertama saya ke Kulonprogo, suasananya asyik sekali," ujarnya, sembari berjalan menyusuri pematang sawah menuju di lokasi tempat tanam perdana areal binaan progam "Pro-Beras BUMN PT Sang Hyang Seri".
Saat tiba di lokasi tanam perdana padi, Dahlan tidak langsung melakukan tanam perdana layaknya apa yang dijadwalkan panitia penyelenggara. Dahlan justru menyempatkan diri mengobrol ringan dengan ibu-ibu petani yang sedang melakukan tanam perdana.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju gudang Perum Bulog. "Kulo nderek donga dinonga, nyuwun ngapunten sampun ngrepoti," ujar Dahlan dalam bahasa Jawa halus kepada penduduk. Artinya,  "Saya minta saling mendoakan, mohon maaf sudah merepotkan." Ia mengemukakan hal itu sembari berjalan menyusuri pematang sawah.
Setelah meninjau gedung Bulog, Dahlan kembali berjalan kembali ke Dusun Seworan menuju kediaman keluarga Keminem (75), warga Dusun Seworan RT19/RW8, Desa Triharjo, Kecamatan Wates, yang berjarak sekitar 300 meter dari kediaman Pak Hadi untuk sarapan.
Menu yang disajikan para ibu, antara lain sayur terancam, pecel, oseng-oseng daun pepaya, tahu, tempe dan aneka buah-buahan.
"Sayur daun pepayanya enak sekali Bu," ucap Dahlan kepada salah seorang warga sambil menyantap sarapan bersama rombongannya di teras rumah beralaskan tikar.
Usai sarapan, Dahlan juga sempat berjabat tangan dengan anak-anak peserta Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), serta melihat pertunjukan kesenian tari jathilan (kuda lumping).
Dahlan terlihat sangat menikmati sajian kesenian tradisional tersebut, bahkan memilih duduk di dekat pemain kendang, meskipun hanya duduk beralaskan terpal.
Sekitar pukul 08.00 Dahlan kembali berjalan kaki menuju kediaman keluarga Hadi Sumarto sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota Yogyakarta untuk menghadiri acara di kampus UGM, Yogyakarta.
Dahlan seperti merasa banyak berutang budi, sehingga dirinya segera bergegas mendatangi rumah Pak Hadi. Bahkan, dirinya sempat meminjam sepeda onthel (kayuh) salah seorang warga untuk cepat sampai di rumah Hadi Sumarto.
Sebelum menutup kunjungan di Dusun Seworan, Desa Triharjo, Dahlan Iskan juga sempat melihat aktivitas gabungan kelompok tani (Gapoktan) Panca Manunggal di Desa Sogan, Kecamatan Wates. Lokasi yang digunakan sebagai tempat pengemasan beras lima kilogram untuk program beras untuk pegawai negeri sipil (PNS) di Kulonprogo.
Tetesan air mata pun menutup kunjungan Dahlan Iskan, saat ia dipeluk Hadi Sumarto yang merasa bahagia bercampur haru dengan kedatangan menteri ke rumahnya.
"Kami sangat senang rumah kami dikunjungi Pak Menteri. Beliau orang yang sangat ramah. Bahkan, tadi pagi selesai shalat Subuh, Pak Menteri pergi ke dapur menyusul saya ketika sedang ngambil minum," ungkap Hadi.
Apresisasi terhadap Dahlan Iskan juga disampaikan oleh Kepala Dusun Seworan, Sutari. Ia menilai, sosok Dahlan adalah menteri yang benar-benar merakyat, dan jarang dimiliki setiap menteri.
"Pak Dahlan ingin merakyat, dan ingin tahu tentang kehidupan orang kampung. Dan, ternyata beliau betul-betul merakyat," demikian  Sutari.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, di setiap kesempatan selalu menjadi perhatian masyarakat, karena perilaku dan tindakannya yang seringkali di luar kebiasaan seorang pejabat negara.
Biasanya seorang pejabat negara di negeri ini dalam suatu kunjungan kerjanya selalu meminta atau disuguhi fasilitas yang berkelas, mulai dari tempat kegiatan acara tertentu, tempat bersantap, hingga fasilitas penginapan.
Tidak demikian bagi seorang Dahlan Iskan, yang juga pemilik kelompok bisnis multumedia massa Jawa Pos Group. Ia justru lebih nyaman mendekatkan diri dengan kalangan bawah sesuai dengan latar belakangnya yang berasal dari keluarga bersahaja.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) dan Protokoler Kementerian BUMN, Faisal Halimi, mengatakan pada Kamis ini bahwa Dahlan Iskan melakukan serangkaian kegiatan di Kota Gudeg, Yogyakarta.
Rangkaian kegiatan Pak Menteri adalah seminar soal "Pemimpin Muda, Belajar Merawat Indonesia", seminar "Program Rightsizing BUMN" di Kampus Universitas Gajah Mada (UGM), dan pencanangan gerakan Pro-Beras BUMN di Dusun Seworan, Kelurahan Triharjo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Dahlan Iskan tiba di kota Gudeg tersebut pada Rabu malam (28/3). Untuk menghabiskan waktu malam itu, mantan Direktur Utama PT PLN (Persero) tersebut memilih menginap di rumah Hadi Sumarto (60) dan Sarjiyah (57), warga Dusun Seworan RT18/RW8, Desa Triharjo, Kecamatan Wates, Kulonprogo.
Hadi dan Sarjiyah, pasangan suami istri yang sehari-harinya  menjadi buruh tani tiba-tiba saja kedatangan Dahlan yang ingin bermalam di rumahnya, yang berlantai tanah dan dinding dari anyaman bambu atau gedhek dalam bahasa Jawa.
"Kami tidak ada persiapan apa-apa, hanya membersihkan beberapa bagian rumah. Biasa saja tidak ada bagian yang saya ganti. Kami senang sekali Pak Menteri mau menginap di rumah kami," ujar Hadi.
Wajah Hadi terus berseri-seri mengetahui seorang menteri akan menginap di rumah miliknya yang berukuran 10m x 7m persegi tersebut. Saat ditanyakan siapakah tamu yang akan berkunjung ke rumahnya, yang masih mempertahankan bangunan khas Jawa berupa bentuk atap limas tersebut, ia mengaku bahwa sebelumnya tidak mengetahui sosok Dahlan Iskan.
"Kami tidak tahu Pak Dahlan Iskan itu siapa, baru tahu ya saat melihat berita di televisi," ujarnya.
Dahlan tiba di kediaman Hadi Sumarto sekitar pukul 00.15 WIB bersama lima orang rombongan, yakni staf Kementerian BUMN, Direktur Utama PT Sang Hyang Seri (Persero), Eddy Budiyono, Direktur Pemasaran PT Sang Hyang Seri, Kaharudin, Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, Winarno Tohir.
Kunjungan Dahlan Iskan juga disambut Wakil Bupati Kulonprogo, Sutedjo, bersama kepala satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) Pemerintah Kabupaten Kulonprogo.
Malam itu memang menjadi hari yang tidak akan terlupakan bagi Hadi Sumarto dan keluarga.
Tujuan kedatangan Dahlan untuk bermalam dan mengunjungi desa tersebut guna meninjau tanam perdana areal binaan progam Pro-Beras BUMN dari PT Sang Hyang Seri di Bulak Seworan, Desa Triharjo, Wates, Kulonprogo, Yogyakarta, pada keesokan harinya.
Begitu tiba di kediaman Hadi, Dahlan Iskan sudah disambut secara sederhana, jika dibandingkan sambutan di hotel-hotel berbintang.
Dahlan terlihat nyaman menanggapi obrolan pemilik rumah, meskipun hanya duduk bersila beralaskan terpal dan tikar di dalam rumah sederhana berdinding bambu saja.
Obrolan mereka semakin hangat, ketika beberapa makanan kecil khas daerah dan hasil bumi, seperti tempe benguk, geblek, ubi dan sajian wedang secang disajikan menggunakan tampah (tempat makan dari anyaman bambu).
"Dalem nipun sae Pak Hadi. Rapi," ujar Dahlan, memuji rumah Pak Hadi yang disebutnya bagus.
Menteri yang akrab dengan sepatu kets dan baju putih lengan panjang tergulung itu agaknya terkesan dengan atap rumah Hadi yang terbuat dari susunan bambu tersusun rapi.
Meskipun raut wajahnya sudah menunjukkan kondisi badan yang lelah setelah seharian beraktivitas, di Jakarta, Dahlan tetap melayani obrolan dengan pemilik rumah maupun dengan wakil bupati serta kepala desa setempat secara santai, bahkan penuh canda.
Dalam dialog tersebut, Hadi pun menjelaskan terkait pekerjaan dan kondisi kehidupannya.
"Kulo mboten gadah sabin, namung buruh hasilipun maro, luasipun 1.800 meter, angsale 10 karung. Hasilipun mboten disade, namung cekap ngge maem saben dinten. Menawi disade, namung ngge tumbas rabuk," ujar Hadi dalam bahasa Jawa. Artinya: "Saya tidak punya sawah, hanya buruh yang hasilnya dibagi dua, luasnya 1.800 meter dengan hasil bagian 10 karung. Hasilnya tidak pernah dijual, namun cukup untuk makan sehari-harinya. Bila dijual, maka hanya untuk beli pupuk."
Tidak terasa waktu terus berlalu dan semakin larut. Waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB. Karena sudah merasa lelah, Dahlan meminta agar obrolan tersebut diakhiri untuk selanjutnya dapat beristirahat.
"Monggo (mari) kita akhiri dulu obrolannya. Kita beristirahat, tidur dulu besok pagi dilanjutkan lagi," ucap Dahlan.
Sebelum pamit untuk beristirahat, Dahlan sempat berganti kaos warna ungu, dan merebahkan diri di tempat semula yang digunakan untuk ngobrol.
Pria kelahiran Magetan pada 17 Agustus 1951 itu tidak mau menempati tempat tidur berkasur empuk yang sebelumnya sudah disediakan oleh tuan rumah. Dahlan justru memilih tidur beralasakan tikar bersama Direktur Utama Sang Hyang Sri dan Wakil Bupati Kulonprogo.
Kemudian, pagi-pagi buta sekitar pukul 04.30 WIB rombongan terbangun setelah mendengar suara adzan Subuh.
Dahlan Iskan tidak ingin ketinggalan shalat Subuh berjamaah. Dirinya bergegas berjalan menuju masdjid Nurul Hidayah yang berada di desa sebelah, yakni di Pedukuhan Garang, Desa Tawangsari, Kecamatan Pengasih, berjalan kaki yang berjarak sekira 400 meter.
Saat ditanya dengan alasan kenapa Dahlan memilih menginap di rumah warga? Ia mengatakan, jika apa yang dilakukannya merupakan salah satu penghayatan riil dengan kehidupan para petani.
"Semalam tidurnya nyenyak sekali, sangat nyaman. Ini bukan pertama kalinya saya menginap di rumah warga, saya juga tidak mencari kepuasan. Ini merupakan bagian penghayatan riil terhadap apa yang dirasakan dan dialami oleh orang seperti Pak Hadi," ujar Dahlan.
Selesai melaksanakan shalat subuh, Dahlan segera kembali menuju kediaman Hadi untuk berganti pakaian menggunakan kaos ungu dilapisi kemeja putih dan mengenakan sepatu kets guna melanjutkan aktivitas olahraga jalan kaki. Rute yang ditempuh sekitar tiga kilometer menyusuri perkampungan dan pematang sawah.
"Ini merupakan kunjungan pertama saya ke Kulonprogo, suasananya asyik sekali," ujarnya, sembari berjalan menyusuri pematang sawah menuju di lokasi tempat tanam perdana areal binaan progam "Pro-Beras BUMN PT Sang Hyang Seri".
Saat tiba di lokasi tanam perdana padi, Dahlan tidak langsung melakukan tanam perdana layaknya apa yang dijadwalkan panitia penyelenggara. Dahlan justru menyempatkan diri mengobrol ringan dengan ibu-ibu petani yang sedang melakukan tanam perdana.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju gudang Perum Bulog. "Kulo nderek donga dinonga, nyuwun ngapunten sampun ngrepoti," ujar Dahlan dalam bahasa Jawa halus kepada penduduk. Artinya,  "Saya minta saling mendoakan, mohon maaf sudah merepotkan." Ia mengemukakan hal itu sembari berjalan menyusuri pematang sawah.
Setelah meninjau gedung Bulog, Dahlan kembali berjalan kembali ke Dusun Seworan menuju kediaman keluarga Keminem (75), warga Dusun Seworan RT19/RW8, Desa Triharjo, Kecamatan Wates, yang berjarak sekitar 300 meter dari kediaman Pak Hadi untuk sarapan.
Menu yang disajikan para ibu, antara lain sayur terancam, pecel, oseng-oseng daun pepaya, tahu, tempe dan aneka buah-buahan.
"Sayur daun pepayanya enak sekali Bu," ucap Dahlan kepada salah seorang warga sambil menyantap sarapan bersama rombongannya di teras rumah beralaskan tikar.
Usai sarapan, Dahlan juga sempat berjabat tangan dengan anak-anak peserta Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), serta melihat pertunjukan kesenian tari jathilan (kuda lumping).
Dahlan terlihat sangat menikmati sajian kesenian tradisional tersebut, bahkan memilih duduk di dekat pemain kendang, meskipun hanya duduk beralaskan terpal.
Sekitar pukul 08.00 Dahlan kembali berjalan kaki menuju kediaman keluarga Hadi Sumarto sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota Yogyakarta untuk menghadiri acara di kampus UGM, Yogyakarta.
Dahlan seperti merasa banyak berutang budi, sehingga dirinya segera bergegas mendatangi rumah Pak Hadi. Bahkan, dirinya sempat meminjam sepeda onthel (kayuh) salah seorang warga untuk cepat sampai di rumah Hadi Sumarto.
Sebelum menutup kunjungan di Dusun Seworan, Desa Triharjo, Dahlan Iskan juga sempat melihat aktivitas gabungan kelompok tani (Gapoktan) Panca Manunggal di Desa Sogan, Kecamatan Wates. Lokasi yang digunakan sebagai tempat pengemasan beras lima kilogram untuk program beras untuk pegawai negeri sipil (PNS) di Kulonprogo.
Tetesan air mata pun menutup kunjungan Dahlan Iskan, saat ia dipeluk Hadi Sumarto yang merasa bahagia bercampur haru dengan kedatangan menteri ke rumahnya.
"Kami sangat senang rumah kami dikunjungi Pak Menteri. Beliau orang yang sangat ramah. Bahkan, tadi pagi selesai shalat Subuh, Pak Menteri pergi ke dapur menyusul saya ketika sedang ngambil minum," ungkap Hadi.
Apresisasi terhadap Dahlan Iskan juga disampaikan oleh Kepala Dusun Seworan, Sutari. Ia menilai, sosok Dahlan adalah menteri yang benar-benar merakyat, dan jarang dimiliki setiap menteri.
"Pak Dahlan ingin merakyat, dan ingin tahu tentang kehidupan orang kampung. Dan, ternyata beliau betul-betul merakyat," demikian  Sutari. 


Sumber : Kompas.com

JADILAH ORANG PERTAMA YANG MENGOMENTARI :



Dikirim oleh Lintas_Daerah pada 14:54. dan Dikategorikan pada , . Kamu dapat meninggalkan komentar atau pesan terkait berita / artikel diatas
  1. KEC. MAGETAN
  2. - Baron
  3. - Bulukerto
  4. - Candirejo
  5. - Kebonagung
  6. - Kepolorejo
  7. - Magetan
  8. - Purwosari
  9. - Ringinagung
  10. - Selosari
  11. - Sukowinangun
  12. - Tambakrejo
  13. - Tambran
  14. - Tawanganom

  15. KECAMATAN BARAT
  16. - Bangunsari
  17. - Banjarejo
  18. - Blaran
  19. - Bogorejo
  20. - Jonggrang
  21. - Karangsono
  22. - Klagen
  23. - Mangge
  24. - Manjung
  25. - Ngumpul
  26. - Panggung
  27. - Purwodadi
  28. - Rejomulyo
  29. - Tebon

  30. KECAMATAN BENDO
  31. - Belotan
  32. - Bendo
  33. - Bulak
  34. - Bulugledek
  35. - Carikan
  36. - Dukuh
  37. - Duwet
  38. - Kinandang
  39. - Kleco
  40. - Kledokan
  41. - Lemahbang
  42. - Pingkuk
  43. - Setre
  44. - Soco
  45. - Tanjung
  46. - Tegalarum

  47. KEC. KARANGREJO
  48. - Baluk
  49. - Gebyok
  50. - Gondang
  51. - Grabahan
  52. - Karangrejo
  53. - Kauman
  54. - Manisrejo
  55. - Mantren
  56. - Maron
  57. - Patihan
  58. - Pelem
  59. - Prambelan
  60. - Sambirembe

  61. KECAMATAN KARAS
  62. - Botok
  63. - Geplak
  64. - Ginuk
  65. - Jongke
  66. - Karas
  67. - Kuwon
  68. - Sobontoro
  69. - Sumursongo
  70. - Taji
  71. - Temboro
  72. - Temenggungan

  73. KEC. KARTOHARJO
  74. - Bayem Taman
  75. - Bayem Wetan
  76. - Gunungan
  77. - Jajar
  78. - Jeruk
  79. - Karangmojo
  80. - Kartoharjo
  81. - Klurahan
  82. - Mrahu
  83. - Ngelang
  84. - Pencol
  85. - Sukowidi

  86. KEC. KAWEDANAN
  87. - Balerejo
  88. - Bogem
  89. - Garon
  90. - Genengan
  91. - Giripurno
  92. - Jambangan
  93. - Karangrejo
  94. - Kawedanan
  95. - Mangunrejo
  96. - Mojorejo
  97. - Ngadirejo
  98. - Ngantep
  99. - Ngunut
  100. - Pojok
  101. - Rejosari
  102. - Sampung
  103. - Selorejo
  104. - Sugihrejo
  105. - Tladan
  106. - Tulung

  107. KEC. LEMBEYAN
  108. - Dukuh
  109. - Kediren
  110. - Kedungpanji
  111. - Krowe
  112. - Lembeyan Kulon
  113. - Lembeyan Wetan
  114. - Nguri
  115. - Pupus
  116. - Tapen
  117. - Tunggur

  118. KEC. MAOSPATI
  119. - Gulun
  120. - Klagen Gambiran
  121. - Kraton
  122. - Malang
  123. - Maospati
  124. - Mranggen
  125. - Ngunjung
  126. - Pandeyan
  127. - Pesu
  128. - Ronowijayan
  129. - Sempol
  130. - Sugihwaras
  131. - Sumberjo
  132. - Suratmajan
  133. - Tanjungsepreh

  134. KEC. NGARIBOYO
  135. - Baleasri
  136. - Balegondo
  137. - Bangsri
  138. - Banjarejo
  139. - Banjarpanjang
  140. - Banyudono
  141. - Mojopurno
  142. - Ngariboyo
  143. - Pendem
  144. - Selopanggung
  145. - Selotinatah
  146. - Sumberdukun

  147. KEC. NGUNTORONADI
  148. - Driyorejo
  149. - Gorang-Gareng
  150. - Kenongomulyo
  151. - Nguntoronadi
  152. - Petungrejo
  153. - Purworejo
  154. - Semen
  155. - Simbatan
  156. - Sukowidi

  157. KEC. PONCOL
  158. - Alastuwo
  159. - Cileng
  160. - Genilangit
  161. - Gonggang
  162. - Jangan
  163. - Plangkrongan
  164. - Poncol
  165. - Sombo

  166. KEC. PARANG
  167. - Bungkuk
  168. - Joketro
  169. - Krajan
  170. - Mategal
  171. - Nganglik
  172. - Nglompang
  173. - Ngunut
  174. - Parang
  175. - Pragak
  176. - Sayutan
  177. - Sundul
  178. - Tamanarum
  179. - Trosono

  180. KEC. PLAOSAN
  181. - Bulugunung
  182. - Buluharjo
  183. - Bogoarum
  184. - Dadi
  185. - Ngancar
  186. - Nitikan
  187. - Pacalan
  188. - Plaosan
  189. - Plumpung
  190. - Punthukdoro
  191. - Randugede
  192. - Sarangan
  193. - Sendangagung
  194. - Sidomukti
  195. - Sumberagung

  196. KEC. PANEKAN
  197. - Banjarejo
  198. - Bedagung
  199. - Cepoko
  200. - Jabung
  201. - Manjung
  202. - Milangasri
  203. - Ngiliran
  204. - Panekan
  205. - Rejomulyo
  206. - Sidowayah
  207. - Sukowidi
  208. - Sumberdodol
  209. - Tanjungsari
  210. - Tapak
  211. - Terung
  212. - Turi
  213. - Wates

  214. KEC. SUKOMORO
  215. - Bandar
  216. - Bibis
  217. - Bogem
  218. - Bulu
  219. - Kalangketi
  220. - Kedungguwo
  221. - Kembangan
  222. - Kentangan
  223. - Pojoksari
  224. - Sukomoro
  225. - Tamanan
  226. - Tambakmas
  227. - Tinap
  228. - Truneng

  229. KEC. SIDOREJO
  230. - Campursari
  231. - Durenan
  232. - Gentasanyar
  233. - Kalang
  234. - Sambirobyong
  235. - Sidokerto
  236. - Sidomulyo
  237. - Sidorejo
  238. - Sumbersawit
  239. - Widorokandang

  240. KEC. TAKERAN
  241. - Duyung
  242. - Jomblang
  243. - Kepuhrejo
  244. - Kerang
  245. - Kerik
  246. - Kiringan
  247. - Kuwonharjo
  248. - Madigondo
  249. - Sawojajar
  250. - Takeran
  251. - Tawangrejo
  252. - Waduk





2010 Berita Magetan. All Rights Reserved. - Designed by Lintas Magetan