Belum Bisa Dipasarkan, Jarak Akan Terus Dikembangkan

Paling tidak seminggu sekali, Samad, warga Desa Trosono, Parang, pergi ke hutan yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumahnya.

Tanpa alas kaki, melewati jalanan terjal. Dia menuju ke lahan setengah hektar miliknya yang ditanami jarak. Samad memetik bijih jarak yang sudah bisa dipanen. “Biasanya dapat satu tas plastik,” katanya, akhir pekan lalu.

Dia selalu menyempatkannya, di sela berternak sapi dan menanam palawija. Tetap semangat, meski sudah tiga tahun ini, jarak belum memberikannya keuntungan apapun.

“Sudah hampir dua karung bijih jarak yang saya kumpulkan, tapi tidak tahu mau dijual kemana,” jelasnya.

Tiga tahun lalu, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Magetan menjadikan sebagai proyek percontohan pengembangan tanaman jarak. Dinas memberikan berbagai fasilitas mulai dari benih hingga uang agar petani mau menanam jarak.

“Hampir 60 persen lahan di Magetan merupakan lahan kering yang cocok untuk tanaman jarak, terutama di Kecamatan Parang,” kata Tirsan Yusuf, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Magetan.

Warga Parang bersedia. Tak kurang dari 75 hektar lahan akhirnya ditanami jarak. Di Desa Trosono lahan yang disediakan petani untuk tanaman jarak sekitar 10 hektar.

“Saya mau karena diberi bibit, pupuk dan uang. Hampir setengah hektar lahan saya yang dulunya ditanami palawija diganti jarak,” ujar Jimun.

Namun itu dulu. Kini, Jimun sudah ogah-ogahan. Jarak dianggap tak menghasilkan. “Sejak tiga tahun lalu, bijih jarak yang kami panen tak bisa dijual,” katanya.

Petugas lapangan yang awalnya sering datang untuk memberikan penjelasan tentang tanaman jarak dan keuntungannya, tak pernah lagi muncul. Jarak tak lagi diurus.

LSM Magetan Center menuding pemerintah kabupaten setengah hati mengembangkan jarak. “Mestinya dinas juga memberikan sosialisasi ke warga bagaimana jarak itu dijual sehingga petani mendapat keuntungan,” kata Beni Ardi, Ketua LSM Magetan Center.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Tirsan Yusuf mengakui kendala memasarkan bijih jarak milik petani. “Saya juga heran, PT yang dulu mendampingi kami untuk pengembangan ini dan berjanji memasarkan kok gak pernah datang lagi.”

Belum ada jalan untuk memasarkan. Namun, Tirsan akan memperluas lahan untuk pengembangan jarak. “Kami akan terus kembangkan terutama di daerah pedesaan yang dekat dengan kota, yang tak memiliki kayu bakar sehingga jarak ini bisa jadi pengganti bahan bakar,” tambahnya. (mk/lm)
Diberdayakan oleh Blogger.