Caping Magetan Laris di Luar Jawa

Para perajin caping anyaman bambu di sentra industri caping Desa Ringin Agung, Kec/Kab Magetan, kebanjiran pesanan dari Sumatera dan Kalimantan. Dalam sebulan, puluhan ribu caping dikirim ke luar Jawa menggunakan truk Fuso.
Menurut para perajin, peningkatan permintaan caping terjadi setiap memasuki musim tanam (penghujan) dan musim panen. Para pedagang caping di sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan meningkatkan jumlah pesanan ke Magetan. Soalnya para petani mulai banyak pergi ke ladang atau ke sawah.
Salah seorang pengepul caping di Magetan, Hj Sadiyem, menuturkan, dalam sebulan, dia bisa mengirim 25 ribu hingga 28 ribu caping, terutama ke Sumatera, sebagai pasar utama caping buatan Magetan.
’’Pada musim penghujan seperti sekarang, petani banyak membutuhkan caping, maka dalam sebulan saya bisa mengirim caping satu truk Fuso. Kalau di luar musim penghujan, biasanya dua bulan sekali,” ujar Ny Sadiyem yang mengawali usahanya dengan menganyam caping sejak sekitar 53 tahun lalu.
Menurut Sadiyem pengiriman caping ke luar Jawa itu sesuai permintaan, tak pernah mengirim di luar permintaan. Namun pasar utama hasil kerajinan caping Magetan memang Sumatera dan Kalimantan. Yang dipasarkan di Magetan dan sekitarnya hanya sekitar 10 persen. Biasanya pengecer menjual secara keliling di Magetan dan sekitar.
Harga caping produksi Magetan bervariasi, tergantung ukuran besar dan kecil atau kualitas menyangkut kekuatan dan kehalusan pengerjaannya. Kalau dihitung eceran, harganya sekitar Rp 8 ribu/buah dan termahal sekitar Rp 28 ribu/buah. Namun ada pula yang per buahnya diharagai Rp 10 ribu, Rp 15 ribu, Rp 20 ribu, dan Rp 25 ribu.
Sadiyem akhirnya memilih menjadi pengepul dengan menampung caping setengah jadi, kemudian dirangkai sendiri dibantu pekerja dan anak-anaknya. Di Ringin Agung banyak sekali warga menganyam caping setengah jadi yang dikirim ke tengkulak besar maupun tengkulak kecil.
Setidaknya ada dua tengkulak besar di desa itu, yakni Ny Sadiyem dan Ny Surati. Surati malah lebih besar lagi omzetnya karena bisa mengirim 2 truk Fuso (sekitar 60 ribu caping) ke Sumatera atau Kalimantan. Di halaman rumahnya yang berada di tepi jalan raya Magetan-Plaosan nyaris tak pernah kosong dari jemuran caping.
Seperti Sadiyem, Surati juga menampung bahan setengah jadi dari para perajin rumahan berupa eblek (anyaman bambu halus) dan kepang (anyaman bambu kasar untuk bagian penguat caping). Keuntungan yang diperoleh pengepul seperti Surati dan Sadiyem berkisar Rp 2 ribu–Rp 3 ribu per kodi (20 caping).  swd

Sumber : surabayapost.co.id
Diberdayakan oleh Blogger.