Petani Stroberi Magetan Gagal Panen Tahun Ini

Puluhan petani stroberi yang tergabung dalam kelompok tani Argo Lawu di Desa Cemoro Sewu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur mengalami gagal panen pada musim tanam tahun ini.

"Cuaca yang tidak menentu dan cenderung banyak hujan membuat tanaman stroberi milik petani rusak. Tingkat kerusakan hingga mencapai 70 persen, akibatnya petani tidak dapat memanen buah stroberi," ujar salah satu anggota kelompok tani Argo Lawu, Narjo, Senin (18/10).

Menurut dia, selama musim tanam tahun ini sepanjang bulan April hingga Oktober, ditaksir petani hanya dapat memanen 15 persen tanaman stroberi miliknya. Rata-rata, jika biasanya sekali panen setiap dua hari sekali, petani dapat mengumpulkan 10 kilogram stroberi, kini hanya mampu menghasilkan 2 hingga 3 kilogram saja. Itu pun juga dengan hasil buah yang tidak maksimal.

Ia menjelaskan, akibat curah hujan yang tinggi, buah stroberi menjadi pecah-pecah dan banyak yang membusuk. Kondisi ini masih diperparah dengan serangan hama "uret" semacam ulat di dalam tanah yang memakan akar tanaman stroberi hingga membuat tanaman menguning, bunganya kering dan tidak berbuah.

"Para petani tidak dapat berbuat banyak. Kalau hama uret kita masih dapat membasminya dengan obat furadan. Namun, kalau curah hujan yang tinggi, siapa yang dapat menangkalnya. Kita pasrah saja," terang Narjo.

Hal yang sama diungkapkan oleh petani stroberi lainnya, Suwarni, akibat gagal panen ini, pihaknya terpaksa mencabuti tanaman stroberi miliknya."Kami nanti akan menggantinya dengan tanaman yang baru, setelah diganti dengan tanaman kubis. Kami akan menanam lagi pada akhir atau awal tahun mendatang," ujar Suwarni.

Ia menuturkan, pihaknya beruntung karena harga jual stroberi yang lumayan stabil mencapai Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram tergantung besar kecilnya buah. Harga ini bisa lebih mahal jika buah stroberi dipetik sendiri oleh pembeli.

"Biasaya banyak pengunjung yang datang memetik sendiri. Jika petik sendiri harganya bisa mencapai 40 ribu hingga 50 ribu setiap kilogram. Ini karena mereka memilih sendiri dan biasanya pasti buah yang besar-besar," jelas Suwarni.

Disamping petik sendiri, stroberi milik kelompok tani Argo Lawu di lereng Gunung Lawu ini juga dipasarkan lewat pengepul ke sejumlah daerah. Kelompok tani Argo Lawu memiliki 36 anggota yang komoditas utamanya adalah buah stroberi. Luas area stroberi mencapai 8 hektare dengan produksi 500 kilogram setiap dua hari sekali.

Kepala Dinas Pertanian Magetan, Eddy Suseno menilai cuaca yang berubah seperti sekarang memicu munculnya penyakit pada tanaman. Ini karena tingkat kelembaban yang cukup tinggi sehingga berdampak pada pertumbuhan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Biasanya, tanaman hortikultura merupakan tanaman yang paling berdampak dan stroberi memang tanaman yang tidak tahan hujan. Sedangkan hama uret, karena pupuk kompos yang digunakan petani tidak melalui proses fermentasi sehingga telur-telur uret tersebut masih hidup dan berkembang biak, kata Edyy.

Untuk membantu petani, pihaknya berencana membagi bibit stroberi baru yang tahan hujan sebanyak 1.000 bibit dan menurut rencana akan dibagikan pada Nopember mendatang. (Ant)

Sumber : nusantara.tvone.co.id
Diberdayakan oleh Blogger.