Pendidikan Desa Sidowayah

Di Desa Sidowayah, pendidikan tidak lagi dipandang sebagai kebijakan yang parsial (terpecah-pecah) secara intern maupun ketika berhadapan dengan bidang lain.

Bahkan reformasi pendidikan yang dipandang sebagai penopang utama bagi terwujudnya reformasi dibidang-bidang lain.

Hal ini secara nyata ditunjukkan oleh berdirinya lembaga-lembaga pendidikan formal dan non formal.

Keduanya tumbuh serta berkembang bersama, memenuhi tingginya kebutuhan masyarakat desa Sidowayah akan lembaga pendidikan yang berkualitas dan terjangkau.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi masyarakat Sidowayah sangat menggembirakan. Hal ini bisa dilihat dari jumlah lulusan baik SD sampai dengan sarjana yang dari tahun 2008 ke 2009 terus mengalami peningkatan.

Seperti contohnya mereka yang lulus SD pada tahun 2008 sejumlah 62 orang dan 64 orang pada tahun 2009, SLTP dengan jumlah lulusan 62 orang tahun 2008 dan 62 orang pada tahun 2009, SLTA dengan jumlah lulusan 30 orang pada tahun 2008 dan 30 orang pada tahun 2009.

Selain itu, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, di Desa Sidowayah terdapat penurun angka buta huruf bagi mereka yang berusia antara 7 th – 45 th dimana dari tahun 2008 terdapat 20 orang.

Hal lain yang lebih menggembirakan terlihat pada jumlah kelulusan bagi mereka yang mengenyam pendidikan jenjang Diploma maupun sarjana. Dengan jumlah lulusan 5 orang untuk program diploma (baik D-1, D-2 maupun D-3) pada tahun 2008 dan 9 orang pada tahun 2009.

Sedangkan untuk program sarjana tercatat 8 orang lulus pada tahun 2008 dan 9 orang pada tahun 2008. Dari data ini terlihat bahwa prosentase tamatan program diploma adalah 0,49% pada tahun 2009 dan 0,60% pada tahun 2009.

Berarti terdapat kenaikan 11% ( dihitung dari jumlah anak usia sekolah 18 sampai 24 tahun sejumlah 357 orang ). Sedangkan untuk sarjana tercatat prosentase tamatan sejumlah 0,61% untuk tahun 2008 dan 0,74 % sehingga terdapat kenaikan kelulusan sejumlah 0,13 %.

Suatu jumlah yang cukup baik untuk komunitas masyarakat di daerah agak terpencil seperti Sidowayah. Data ini membuktikan pula, walaupun tempat tinggal mereka di lingkungan pedesaan, namun keinginan untuk mengenyam pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi ( diploma maupun sarjana ) tetap besar.

Sehingga tempat tinggal serta jarak yang jauh ke pusat pemerintahan / pendidikan bukan lagi dijadikan sebagai hambatan dan kendala.(**)
Diberdayakan oleh Blogger.