Petani Cabai di Magetan Rugi Puluhan Juta Rupiah

Petani cabai di sentra produksi di Desa Soco, Bendo, Magetan, Jawa Timur sepertinya tidak bisa menikmati kenaikkan haga cabai yang melambung belakangan ini. Bahkan, mereka puluhan juta rupiah akibat gagal panen yang dialami pada musim tanam kali ini.

Salah satu petani cabai desa setempat, Hartini, Selasa (28/12) mengatakan gagal panen tersebut terjadi setelah ratusan hektare tanaman cabai rusak akibat curah hujan yang tinggi dan serangan hama. "Tanaman cabai banyak yang mati. Ini menyusul cuaca buruk musim hujan serta serangan berbagai hama yang menyerang tanaman selama sebulan terakhir," ujar dia.

Menurut dia, para petani tidak bisa berbuat banyak menyikapi kondisi ini. Hama yang menyerang tidak bisa ditanggulangi meski berulang kali telah melakukan penyemprotan pestisida. Ia hanya mampu menyelamatkan sebagian buah cabai yang bisa dimanfaatkan, meski dengan kualitas yang buruk.

Bahkan sebagian petani ini akhirnya membakar tanaman cabai miliknya. Mereka berharap dengan membakar tanaman cabai, penyebaran hama dapat ditekan.

Akibat serangan penyakit dan cuaca buruk, juga membuat produksi tanaman cabai di Magetan pada musim tanam tahun ini mengalami penurunan hingga 50 persen lebih. Para petani juga harus menanggung rugi puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Mereka mengaku tak mampu lagi melakukan tanam ulang karena rata-rata modal biaya tanam cabai sebelumnya berasal dari utang, yang akan dibayar setelah masa panen. Selain itu, di saat harga cabai di pasaran melambung tinggi, petani sama sekali tidak mendapatkan keuntungan.

"Harga cabai di pasaran tembus lebih dari Rp60 ribu perkilogramnya. Padahal harga di tingkat petani tidak sampai segitu. Kami menduga, tingginya harga ini juga dimanfaatkan oleh para pengepul," ujar petani cabai lainnya, Misiran.

Kepala Dinas Pertanian Magetan Edy Suseno, menilai cuaca yang berubah seperti sekarang memicu munculnya penyakit pada batang tanaman. Ini karena tingkat kelembaban yang cukup tinggi, sehingga berdampak pada pertumbuhan organisme pengganggu tanaman (OPT).

"Biasanya, tanaman hortikultural merupakan tanaman yang paling berdampak. Kerusakannya bisa mencapai 50 persen. Petani diminta berhati-hati akan keadaan ini. Anomali cuaca ini bisa ditekan dengan penanaman bibit yang tepat," kata dia. (Ant/OL-04)

Dikirim : roedy.tabuty@gmail.com

Diberdayakan oleh Blogger.