Ibu Kandung Dihajar Sampai Gegar Otak

Tak salah bila ada peribahasa mengatakan, kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Besarnya cinta orangtua kepada sang anak kerap kali tak sebanding dengan balasan yang diterima.
 
Seperti itulah kenyataan yang tergambar dari tragedi memilukan Ny Sutinah, warga Ngampon, Kelurahan/Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan. Wanita 60 tahun ini terpaksa harus dilarikan ke RSUD dr Sayyidiman Magetan, setelah mengalami penganiayaan berat yang dilakukan anak kandungnya sendiri, Sabtu (5/3).

Korban mengalami gegar otak, luka-luka di bagian kepala sepanjang 6 sentimeter, serta patah tulang pada tangan kanannya, setelah dihajar anak keduanya, Arik (23) menggunakan sebatang bambu.
Hingga kini, korban yang mengalami gangguan pendengaran itu (tuna rungu) selalu merintih kesakitan setiap sadar dari pembaringan di ruang perawatannya.

Peristiwa mengenaskan yang menimpa Ny Sutinah itu berawal saat Arik meminta sebatang rokok kepada ibu kandungnya itu. Entah bagaimana ekspresi Ny Sutinah kala itu, melihat sang ibu yang diam tidak merespons –diduga karena tidak mendengar- atas permintaannya itu, pemuda ini langsung naik pitam.

Secara membabi buta, Arik langsung mengambil sebatang bambu dan selanjutnya menghajar ibu kandungnya itu hingga sekarat. Saat korban terkapar di lantai, beberapa warga yang mengetahui kejadian itu langsung menghentikan aksi Arik.

Ny Sutinah selanjutnya dilarikan ke RSUD dr Sayyidiman Magetan untuk mendapatkan pertolongan.
Adik kandung korban, Suryani (45) menuturkan, kakaknya dihajar oleh anak kandungnya sendiri hingga mengalami luka serius di bagian kepala dan patah tulang pada tangan. Menurut dia, tersangka mengamuk setelah permintaannya sebatang rokok itu tak digubris.

“Sebenarnya, kakak saya bukannya tak mau memberi, dia kan mengalami gangguan pendengaran. Jadi saat itu, sepertinya kakak sedang tak mendengarkan permintaan anak lelakinya,” terangnya kepada Surya.
Lalu, bagaimana nasib Arik setelah menganiaya ibunya ? Hanya dalam waktu beberapa jam, yang bersangkutan langsung ditangkap petugas. Ia kemudian dibawa ke Polsek Takeran untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Kapolsek Takeran, AKP Susanto menjelaskan, ada keanehan yang muncul dalam diri pelaku. Selama diperiksa penyidik, katanya, jawaban-jawaban yang diberikan Arik ternyata lebih banyak tidak nyambung dengan pertanyaan tim penyidik.

Apakah ini berarti korban mengalami stres atau depresi berat, belum diketahui pasti. Untuk itu, polisi berencana mengirimkan yang bersangkutan ke rumah sakit jiwa Surakarta.

“Untuk memastikan kesehatan psikologis tersangka, kami segera mengirim dia ke RSJ Surakarta. Ini juga untuk memudahkan penyelidikan. Nantinya, kalau dia memang mengalami gangguan jiwa, maka tersangka bakal tetap berada di rumah sakit jiwa itu,” tandasnya.wan

Sumber : Surya.co.id
Sumber Ilustrasi Foto : Google.com

Diberdayakan oleh Blogger.