Industri Sepatu Sulit Cari Perajin Muda

Industri sepatu Magetan, Jawa Timur, mulai bangkit melawan penetrasi pasar yang dilakukan oleh produsen sepatu impor. Namun upaya yang dilakukan kurang maksimal karena terkendala sulitnya mencari perajin-perajin muda berbakat. Pemerintah diharapkan membantu dengan menyediakan balai latihan kerja sebagai wadah pembelajaran bagi perajin muda.

"Lulusan SMA dan SMK setiap tahunnya sangat banyak di Magetan. Namun yang tertarik menekuni kerajinan sepatu sangat minim sehingga setiap tahun kami harus berebut untuk mendapatkan perajin yang bisa dididik membuat sepatu," ujar Eko Patrianto Ketua Asosiasi Perajin Kulit Magetan, saat dihubungi Jumat (11/3/11). 

Sebagian besar masyarakat masih berpendapat bekerja di sektor industri sepatu kurang prospektif. Ini terjadi ketika industri sepatu lokal kalah bersaing dengan produk impor. Ironisnya, pada saat industri lokal mulai bangkit, pelaku usaha kesulitan mencari tenaga terampil. 

Pemilik industri sepatu dan sandal merek Shalud, Retno menambahkan kerajinan sepatu memerlukan ketrampilan khusus di samping kesabaran dan ketekunan. Tanpa ketiga hal tersebut, produk yang dihasilkan tidak akan berkualitas. 

Untuk memproduksi sebuah sepatu setidaknya diperlukan tiga tahapan yakni tahap aper atau membuat atasan di mana perajin harus menyiapkan bahan baku kulit dan karet. Setelah itu masuk dalam tahap penyempurnaan. 

Setiap tahun, para pengusaha memerlukan sedikitnya tiga orang perajin untuk ditempatkan di tiga divisi tersebut. Di Magetan saat ini bertahan 85 pengusaha sepatu dan 24 pengusaha sandal dengan kapasitas rata-rata 60 pasang per hari. Industri sepatu Magetan mempekerjakan sedikitnya 476 perajin yang terlibat langsung. 

Jumlah perajin ini setiap tahun terus berkurang seiring menurunnya produktivitas akibat bertambahnya usia. Perajin sepatu dan sandal dikhawatirkan semakin langka apabila pemerintah tidak membantu menyediakan tenaga terampil di sektor tersebut. 

Sebagai gambaran, pada tahun 2000 jumlah pengusaha sepatu dan sandal mencapai 131 yang tersebar di tiga sentra industri yakni Selosari, Mojopurno dan Kauman. Namun saat ini jumla h pengusaha tinggal 109 atau berkurang 22 pengusaha dalam kurun waktu 10 tahun. 

Penyebab utamanya mereka kehilangan generasi penerus untuk melanjutkan usaha yang dirintis para orang tua. Generasi muda kurang tertarik dan lebih memilih bekerja di luar kota karena menganggap usaha sepatu dan sandal ketika itu kurang prospektif. 

Asosiasi Perajin Kulit Magetan yang mewadahi para perajin sepatu dan sandal ini sudah berkali-kali mengadakan pembicaraan dengan pemerintah daerah terkait masalah tenaga kerja tersebut. Pengusaha berharap pemerintah membantu menyediakan balai latihan kerja serta menyediakan tenaga pengajarnya. Saat ini untuk pelatihan tenaga kerja, para pengusaha harus mengirim ke Sidoarjo, Jawa Timur. 

Sumber : Kompas.com
Sumber Ilustrasi Foto : Google.com

Diberdayakan oleh Blogger.