Pemilik Warung Menolak Terbuka

Alasannya untuk Mengendalikan Pengunjung
MAGETAN-Puluhan pemilik warung di Desa Malang, Maospati,pada jalur Maospati-Ngawi,kemarin(25/5) dikumpulkan.Ini menyusul sorotan berbagai pihak yang mensinyalir warung tersebut berubah fungsi menjadi ajang prostitusi liar.Dialog yang diinisiatori pemerintah desa,Badan Perwakilan Desa(BPD)dan polsek itu,digelar di balai desa setempat. 

Pertemuan dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 11.00.Ada tiga kesepakatan yang tertuang dari hasil dialog tersebut.Pertama,soal jam malam warung hingga pukul 01.00.Sebelumnya,soal jam malam tidak ada kejelasan.

Kesepakatan kedua,warung tidak boleh digunakan untuk kegiatan mesum.Sebab,selama ini,isu yang beredar sejumlah warung ada yang berubah fungsi menjadi warung plus plus.''Aturan ini untuk ketertiban dan keamanan karena warung telah menjadi sorotan masyarakat,''kata Kepala Desa Malang Prasetyo. 

Ketiga,pemilik atau pengelola warung tidak boleh menambah bangunan.Baik di muka maupun di bagian belakng.''Yang paling penting,warung tidak boleh digunakan untuk mesum.Penjualan minuman juga dikurangi.Kalau malam sebaiknya musik dipelankan,agar tak menganggu warga,''lanjutnya. 

Suasana dialog itu berlangsung landai.Namun,ada kesepakatan yang ditolak beberapa pengelola warung. Yakni,masalah keberadaan warung yang cenderung tertutup.Pihak desa sebelumnya meminta warung terbuka sehingga terlihat dari luar atau jalan raya. 

''Justru kalau tertutup,kami bisa mengendalikan ketertiban pengunjung,''kilah salah seorang pemilik usaha warung plus karaoke di Malang tersebut. 

Prasetyo berjanji siap menindak tegas bila pengelola warung melanggar kesepatakan yang dimusyawarahkan dalam pertemuan tersebut.''Kami akan melakukan pengawasan.Kesepakatan akan ditempel di warung.'' (rif/sat)

Sumber Ilustrasi Foto : Google.com
 
Diberdayakan oleh Blogger.