Inilah Tempat-tempat Berkaromah

Seorang paranormal dari Kediri, Bambang DK, menceritakan pengalaman spiritualnya. Tentang tempat-tempat yang dinilai cocok buat bersamadi. Dua tempat paling berkesan adalah Gunung Wilis dan Gunung Lawu.

"Tempat yang hening, tempat yang sulit dicapai dan berkaromah. Kegiatannya, mengheningkan pikiran, berdoa, meminta keselamatan untuk keluarga. Biasanya 2-3 hari berada disana," ujar Bambang, kepada beritajatim.com.

Bambang pergi ke puncak Gunung Wilis sebanyak dia kali. Kepergiannya yang pertama saat saat dia memiliki anak pertama, yaitu Hesi. Hesi saat ini sudah bersuami dan memiliki anak. Tetapi, dua tempat yang didatangi Bambang tidak sama.

Pertama di tempat yang sering disebut dengan Ujung Wilis, berada diatas Air Terjun Sedudo, wilayah perbatasan Kabupaten Nganjuk dengan Madiun.

Untuk mencapai puncaknya, Bambang membutuhkan waktu selama dua hari dua malam. Dia berjalan kaki dengan dipandu oleh seorang warga yang mengenal tempat itu. Di tempat yang dikunjunginya itu terdapat sebuah batu besar berbentuk tokoh pewayangan Semar, salah satu punokawan (teman pandawa, red).

Tempat yang kedua berada di Desa Depok. Tempat ini sedikit lebih dekat daripada Puncak Wilis. Namun, untuk mencapainya harus menaiki tempat yang sering disebut "Ondo Rante". Bukan sebuah tangga berbentuk rante tetapi tebing yang sangat curam, tetapi anehnya pendaki tidak bisa terjatuh.

Perjalanan menaiki Ondo Rante kira-kira membutuhkan waktu selama dua jam. Dia memanjat tebing dari bebatuan yang ditumbuhi rumput setinggi kurang lebih 3 meter. Bisa dibayangkan, kesulitannya.

"Naik ke tempat seperti itu hati kita harus bersih. Banyak orang yang meremehkannya. Akhirnya mereka tidak berhasil. Seperti pengalaman saya waktu naik ke Gunung Lawu. Perjalanannya jauh lebih mudah dari Gunung Wilis, tetapi kami berlima, justru tersesat," imbuh Bambang.

Bambang pergi ke Gunung Lawu, tiga tahun setelah naik turun Gunung Wilis. Lokasinya berada di atas Saradan, Magetan. Tempat itu sebenarnya umum dikunjungi. Sebab, disana ada sebuah makam, disebut sebagai makam milik Raden Brawijaya kelima (Raja Kediri, red). Tempat yang dianggap memiliki karomah itu kerap dimanfaatkan seseorang untuk bermunajat.

Saat itu rombongan Bambang terdiri dari lima orang. Mereka naik bersama seorang pemandu. Selama perjalanan rombongan bercanda. " Kami tiba di lokasi. Kemudian berziarah, berdoa dan bermunajat disana. Tetapi saat pulang kami justru tersesat. Padahal, pemandunya adalah orang yang berpengalaman," katanya.

Perjalanan menuruni bukit dimulai ba'da magrib. Mestinya hanya ditempuh selama tiga jam. Tetapi, mereka baru berhasil turun setelah matahari terbit. Rombongan tersesat, berputar-putar dan kembali ke tempat semula. Bahkan, pemandu mereka berulang kali terjatuh, meskipun sudah berdoa berulang-ulang.

Mereka tersesat ketika tiba di sebuah tempat yang sering disebut dengan "Pasar Setan". Suatu tempat paling angker yang berada di tengah hutan. Rombongan seolah-olah melihat sebuah desa dengan aktivitas kehidupan. Padahal, tempat itu adalah hutan belantara. Bahkan, satu orang dari rombongan itu terpisah.

"Teman saya berasal dari Tuban terpisah dari rombongan. Mungkin dia ikut dalam kehidupan disana (Pasar Setan, red). Kami melihat sebuah desa, dengan aktivitas kehidupan. Ada yang menuntun sapi, pergi ke ladang dan rumah-rumah penduduk. Kami sungguh takjub. Padahal, tempat itu adalah hutan belantara dengan bebatuan besar. Teman saya baru tersadar setelah ditemukan seorang pencari kayu. Dia pingsan di sebelah pohon besar yang sudah tumbang," cerita Bambang.

Pengalaman spiritual yang didapatkan selama bertahun-tahun itu, kini diamalkan Bambang untuk kegiatan sosial. Bambang membuka praktik penyembuhan dan pemecahan segala persoalan kehidupan di rumahnya. Setiap hari-harinya, rumah Bambang tidak pernah sepi.

Bambang mengobati pasiennya dengan media air putih yang sudah diberikan doa-doa. Niatnya adalah sosial. Dia tidak pernah memasang tarif kepada para pasiennya.

Selain aktivitas mengobati, Bambang ikut dalam sebuah paguyuban orang-orang pinter, paranormal, pemerhati benda-benda pusaka. Paguyuban tersebut bernama Panji Joyoboyo, yang diketuai oleh Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Kota Kediri Agus Wahyudi.

Salah seorang anggota paguyuban ini adalah Fifwanto (37), atau biasa dikenal dengan panggilan Gus Atot. Paranormal berdarah campuran Bugis dengan Jawa itu sudah tersohor. Dia pernah menjadi guru spiritual almarhum Taufik Savalas. Selama lima tahun, yaitu sejak 2003-2008 dia berada di Jakarta.

Awal dirinya pergi ke Jakarta karena diminta menjadi pawang hujan shooting iklan shampo lifeboy oleh komedian Taufik Savalas. Dia diajak berkeliling ke delapan kota di Indonesia. Setelah itu dia menetap di Jakarta dan membuka praktik penanganan segala masalah kehidupan.

Istri Eni Fadlilatin itu kini memilih tinggal di Sukorejo Permai, Kabupaten Kediri. Gus Atot mendirikan padepokan Matahari. Muridnya berasal dari berbagai daerah. Dia dikenal dengan seorang paranormal gaul dengan dandanan yang nyleneh. Biasa bercelana pendek, dan rambut dicat warna-warni. [nng/but]

Sumber : Berita Jatim


Diberdayakan oleh Blogger.