Subaru Invasi Pulau Dewata

Produsen mobil Subaru kembali melebarkan sayap di Indonesia. Setelah membuka showroom di Surabaya, Subaru mulai menancapkan kuku mereka di Pulau Dewata, Bali.

Di Pulau Dewata, Subaru melalui Motor Image yang merupakan distributor tunggal mobil Subaru di Indonesia hari ini secara resmi membuka showroom di Bali dengan konsep 3S (sales, service dan spare parts).

Showroom tersebut berada di Jl. Gatot Subroto Timur No. 324XX, Denpasar dengan menempati lahan seluas 1.000 meter persegi. Peresmian dilakukan oleh Presiden Direktur PT TC Subaru, Glenn Tan dan dimeriahkan pemotongan pita dan tari tradisional Bali.

"Bali, selain menjadi sebuah pulau kosmopolitan dengan komposisi yang tepat untuk mencari petualangan dan dipenuhi oleh orang-orang yang menyenangkan, juga merupakan pasar yang dinamis yang kami rasakan bisa mendukung line-up andalan kami yakni mobil sistematis dengan all wheel drive yang akan kami perkenalkan di pulau ini," ungkap Glenn disela pembukaan showroom, Selasa (12/7/2011).

"Showroom ini adalah salah satu dari beberapa pusat 3S yang kita buka sebagai bagian dari perluasan jaringan kami di Indonesia dan untuk mengantisipasi kedatangan SUV compact yang akan dibawa dengan sistem CKD tahun depan," urainya.

"SUV compact yang baru akan melengkapi model line-up CBU yang sudah ada sebelumnya, yang sangat cocok dengan jalan off-road Bali serta menyempurnakan gaya hidup aktif," tandasnya.

Sebelumnya, PT TC Subaru sudah memiliki showroom dan pusat 3S di Pondok Indah, Kelapa Gading (Jakarta), Pekanbaru, Surabaya dan Batam.

Touring Lancar Zero Accident

Sementara dalam perjalanan panjang melintasi pulau Jawa dan Bali bersama Subaru pun berlangsung lancar. Perjalanan melintasi 1.700 km aspal jalan berlangsung tanpa insiden alias Zero Accident!

Awal perjalanan sendiri dimulai dari showroom Subaru di kawasan Pondok Indah, Jakarta pada 8 Juli silam. Saat itu, rombongan yang menggunakan Subaru Outback, Forester 2.0, Forester, 2.5, Exiga 2.0i dan Exiga GT memulai perjalanan. Jalur selatan pun dipilih.

Hari pertama, rombongan memiliki target untuk mencapai Yogyakarta. Untuk perjalanan hari pertama ini rombongan melintasi Cikampek untuk menuju Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Majenang dan Gombong.

Perjalanan hari pertama ini berlangsung cukup cepat dan aman. Hanya butuh waktu sekitar 11 jam untuk sampai ke Yogyakarta, 1 jam lebih awal dari target yang ditentukan.

Perjalanan panjang ini bagai sebuah reli, kawasan penuh kelok dihantam dengan kemampuan mumpuni dari mesin-mesin horizontally-opposed milik Subaru.

Sementara hari kedua, Surabaya menjadi target berikutnya. Untuk sampai ke kota pejuang itu, rombongan melintasi Solo, Klaten, Kertasura.

Nuansa reli sepanjang perjalanan belum hilang. Mau jalanan penuh kelok atau penuh lubang mobil Subaru bisa mengatasinya dengan sangat baik.

Tantangan berbeda muncul, saat rombongan membelah Cumoro Sewu hingga ke Telaga Sarangan di Magetan. Jalur penuh kelok dengan permukaan yang kadang menurun, kadang menanjak membuat adrenalin meningkat hingga akhirnya sampai di Surabaya.

Hari ketiga lahir. Kali ini, rombongan berniat untuk menikmati sunrise di Gunung Bromo. Untuk sampai kesana rombongan harus lebih dahulu melewati Sidoarjo, Pasuruan dan Probolinggo yang banyak memiliki jalan rusak penuh debu.

Sampai di Probolinggo, rombongan lalu berbelok ke arah Tengger. Adrenalin pun digenjot. Jalan penuh liku dengan tikungan tajam yang cukup menyeramkan menghadang. Bukan apa-apa, satu sisi jalan hampir selalu ditemani jurang yang dalam.

Namun berkat DNA reli yang terkandung di mobil-mobil Subaru nampak mampu mengatasi itu. Sering kali suara berdecit muncul tapi stabilitas tetap terasa berkat sistem penggerak semua roda alias all wheel drive yang diusung seluruh mobil Subaru.

Tapi ketika sampai di gerbang Bromo, masalah timbul. Akses jalan dari Bromo ke Pananjakan, Pasuruan terputus akibat erupsi Bromo akhir tahun lalu. Padahal hotel tempat kami menginap ada di Pananjakan. Akhirnya, kemudi pun diarahkan balik ke pasuruan.

Bukannya kesal karena masalah ini, rombongan justru senang. Sebab jalan menantang yang tadi dilewati kini bisa kembali dinikmati.

Di hari keempat, perjalanan terakhir dimulai. Bali pun menanti. Kembali kami melalui Probolinggo untuk kemudian menuju Situbondo, Banyuwangi lalu menyeberang ke Bali menggunakan kapal ferry. Jalur terakhir ini jalan lurus sekitar 200 km menanti. Kecepatan bisa dipacu meski jalan rusak masih menghadang di sana-sini.

Ketika memasuki hutan jati di perbatasan Situbondo-Banyuwangi, jalan mulai berkelok. Nuansa makin mencekam karena tidak ada kehidupan di hutan jati tersebut dan dari arah berlawanan kadang rombongan bertemu truk yang tiba-tiba muncul dari balik tikungan. Tapi respon mobil membuat kecelakaan bisa dihindari.

Rombongan pun akhirnya memasuki kapal ferry. Setelah berlayar sekitar 1 jam, akhirnya, rombongan pun merapat ke pulau para dewa tanpa ada insiden berarti.( ikh / ddn )

Sumber : Detik


Diberdayakan oleh Blogger.