1.390 Hektare Sawah di Magetan Tidak Ditanami

Magetan - Sebanyak 1.390 hektare lahan persawahan di wilayah Kabupaten Magetan, Jawa Timur, tidak ditanami padi oleh para petani selama musim kering tahun ini karena takut terjadi puso atau gagal panen.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Magetan, Eddy Suseno, Kamis, mengatakan, ribuan lahan sawah yang tidak ditanami tersebut terdapat menyebar hampir di seluruh wilayah Kabupaten Magetan, kecuali yang terdapat di lereng Gunung Lawu.

"Lahan sawah seluas 1.390 hektare tersebut memang sengaja tidak ditanami padi oleh petani. Mereka sudah tahu karena memasuki musim kering pasti airnya tidak mencukupi," ujar Eddy.

Menurut dia, sejauh ini pihaknya belum mendapat laporan tentang adanya sawah yang mengalami puso di wilayahnya. Hal ini karena pihaknya dari awal musim telah melakukan sosialisasi kepada petani jika musim kering tahun ini lebih panjang dari pada tahun sebelumnya.

"Sehingga petani diminta jangan memaksakan diri untuk menanam padi di lahan persawahan. Kami juga mengimbau kepada petani untuk tidak menanam padi di lahan sawah tadah hujan, karena itu akan berisiko gagal panen atau puso akibat minimnya pasokan air," kata Eddy.

Hasilnya, sebagian besar petani di daerah padi memilih menanam tanaman palawija dan tergolong sukses. Banyak petani Magetan yang telah melakukan panen kedelai baru-baru ini.

Secara total luas lahan pertanian di Kabupaten Magetan mencapai 25.563 hektare. Dari luas lahan tersebut, saat ini yang ditanami berbagai tanaman komoditas, seperti padi, palawija, dan hortikultura mencapai 24.173 hektare.

Sementara, di Kabupaten Madiun, sebanyak 935 hektare dari 14.000 hektare lahan persawahan di empat wilayah kecamatan setempat, terancam kekeringan pada musim tanam kemarau kedua (MK II) kali ini.

Lahan persawahan tersebut berada di Kecamatan Madiun seluas 211 hektare, Kecamatan Balerejo seluas 243 hektare, Kecamatan Saradan seluas 145 hektare, dan Kecamatan Pilangkenceng seluas 336 hektare.

"Dari luasan lahan tersebut, 11,5 hektare di antaranya dinyatakan puso atau gagal panen akibat minimnya pasokan air untuk pengairan," ujar Kasie Perlindungan Tanaman, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kabupaten Madiun, Sumanto.

Untuk itu, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada petani untuk memanfaatkan air secara efisien dan memaksimalkan sumur pantek atau diesel yang ada. Pihaknya juga meminta kepada petani untuk mengoptimalkan penggunaan sumur pompa dalam (P2T) guna membantu mengatasi kekeringan kali ini.

Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Madiun mencatat, luas areal pertanian di Kabupaten Madiun untuk musim tanam kemarau kedua (MK II) kali ini mencapai 14.000 hektare lebih. Luas lahan ini menyusut dari MK I sebelumnya yang mencapai 32.000 hektare lebih.

Sumber : Antara Jatim
Sumber Ilustrasi Foto : Google

Diberdayakan oleh Blogger.