Perajin Gerabah Kesulitan Bahan Baku

Perajin gerabah di Desa Pojok, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mengeluh kesulitan mendapatkan bahan baku industri berupa tanah liat. Menipisnya stok tanah liat mengakibatkan harga naik hingga 200 persen.
Keluhan itu antara lain disampaikan Simah (60), perajin gerabah yang juga merangkap menjadi pengepul di Desa Pojok. Ia mengatakan, harga tanah liat naik dari Rp 75.000 per pikap menjadi Rp 150.000 per pikap. Pemasok tanah liat mengaku kesulitan mendapatkan barang karena tanah sawah mengering pada musim kemarau.
Namun, walaupun harga bahan baku naik, perajin gerabah tidak bisa menaikkan harga jualnya. Penyebabnya, selain pasar stagnan, kompetisi harga di tingkat perajin sangat ketat. Akibatnya, perajin terpaksa menggerus keuntungannya hingga mencapai titik minimal.
Aneka gerabah produksi perajin di Desa Pojok dijual mulai harga Rp 200 per biji hingga Rp 5.000 per biji. Satu mangkuk tempat sesaji misalnya, hanya dijual Rp 500 per biji. Sementara satu pot bunga ukuran sedang harganya Rp 1.000 per biji.
Selain memproduksi pot dan tempat sesaji, perajin juga memproduksi layah, periuk nasi, aneka pot, serta perabot lain seperti pesanan khusus salon spa di Bali. Gerabah produksi perajin ini dijual hingga ke luar Magetan seperti Solo, Surabaya dan Bali.
Sumber : Kompas


Diberdayakan oleh Blogger.