Gubernur Jatim Perangi Penyakit Difteri

Gubernur Jatim Soekarwo telah melaporkan kepada Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih terkait status Jatim KLB penyakit difteri. Hingga saat ini, Data Dinas Kesehatan Jatim, menyebutkan ada 333 kasus difteri dan menyebabkan 11 anak meninggal.

Jika dibandingkan tahun 2010, tahun ini terjadi peningkatan kasus. Tahun lalu terdapat 304 kasus dan menyebabkan 21 anak meninggal.

"Yang penting dan harus ditangani adalah ketidaktertiban terhadap vaksinasi atau imunisasi dasar. Puskesmas di Jatim harus mengkontrol belanja vaksinasinya, jangan sampai kekurangan. Difteri merebak juga di daerah selain Jatim, memang musim seperti ini banyak difteri," kata Pakde Karwo kepada wartawan di kantor gubernur, Senin (10/10/2011).

Menurut dia, selain berkoordinasi dengan Kemenkes, pihaknya juga sudah berkoordinasi kabupaten/kota untuk menyiapkan langkah-langkah mengatasi dan mencegah difteri. Pemprov Jatim siap mengucurkan anggaran Rp 8 miliar dan menyediakan 40 ribu ampul vaksin.

"Jika memang anggaran Rp 8 miliar masih kurang, ya akan ditambah. Ini karena penanganan penyakit difteri merupakan persoalan mendasar. Dalam periode Januari-Oktober 2011 sudah 34 kabupaten/kota yang terjangkit difteri. Hanya Pacitan, Trenggalek, Magetan dan Ngawi yang saat ini masih aman," imbuhnya.

Pemprov Jatim mengimbau agar masyarakat waspada serta dapat mencegah terjadinya bahaya difteri itu di lingkungan rumahnya masing-masing. Menindaklanjuti KLB Difteri ini, Pemprov Jatim mulai Senin (10/10/2011) hari ini menggelar vaksinasi massal di beberapa daerah persebaran difteri khususnya di 11 kabupaten/kota: Kota Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto, Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pamekasan, Blitar, Gresik dan Banyuwangi.

Di 11 daerah ini, lanjut Pakde, merupakan daerah dengan jumlah persebaran difteri terbesar. Penerapan KLB tidak hanya dilakukan di 11 daerah, melainkan total di seluruh kabupaten/kota se-Jatim.

Kadinkes Jatim, Mudjib Affan, mengakui, tingginya kasus difteri merupakan penyebab dari belum sadarnya orang tua akan pentingnya imunisasi bagi anak. Padahal, setiap melahirkan baik itu di bidan, rumah sakit maupun puskesmas, setiap orang tua pasti dianjurkan untuk segera mengimunisasi anak mereka.

"Merebaknya virus difteri terjadi sejak tahun lalu. Pihaknya juga telah memberikan Outbreak Respons Communications (ORI) secara gratis di seluruh puskesmas dan posyandu yang ada di Jatim," imbuhnya.

Peryebaran penyakit dari bakteri ini, lanjut dia, memang tergolong cepat. Vaksinasi sebenarnya kewajiban orang tua, tapi dengan penetapan KLB ini, Dinkes Jatim akan bantu mengimunisasi seluruh anak yang terindikasi difteri. [air/tok]

Sumber : Berita Jatim
Sumber Ilustrasi Foto : Google


Diberdayakan oleh Blogger.