Joglo Mini

Joglo mini pemanis pagar rumah mempunyai makna simbolis yang dalam

Asesoris 'Joglo mini' ini penulis jumpai sebagai penghias pagar salah satu rumah penduduk di pinggiran kota Magetan. Bentuknya yang menarik penuh dengan makna simbolis didalamnya. Walau tidak mengeluarkan kata-kata dengan suara, namun 'replika rumah Joglo' ini seolah berbicara kepada kita dengan bahasa isyarat. Dia tentu berharap kita dapat menangkap maknanya.

Joglo adalah rumah adat masyarakat Jawa. Bangunan Joglo ditopang oleh 4 tiang utama sebagai soko guru dengan 12 tiang disekelilingnya, mempunyai 3 pintu masuk, atapnya menjulang ke langit dan ke samping. Apa makna simbolis yang terkandung dalam rumah Joglo seperti bentuk atap, jumlah pintu masuk, dan jumlah tiang penyangga selain soko guru ?

Atap menunjuk ke arah langit mengisyaratkan manusia untuk selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan atap menyamping mengisyaratkan untuk ingat kepada sesama manusia, alam, tumbuhan, dan hewan. Dengan kata lain rancangan bangunan rumah Joglo seperti itu mengandung makna bahwa penghuni rumah tersebut hendaknya memiliki jiwa santri.

Santri dari kata insan atau manusia dan tri atau 3. Jadi manusia yang mempunyai 3 watak seperti yang digambarkan dengan bentuk atap dan 3 pintu masuk yaitu (1) mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan Yang Maha Esa, (2) mempunyai hubungan yang baik dengan sesama manusia, (3) mempunyai hubungan yang baik dengan alam lingkungan.

Dua belas tiang penyangga mengisyaratkan hendaknya penghuni rumah tersebut untuk menghargai waktu dalam sehari 12 jam, semalam 12 jam, setahun 12 bulan. Waktunya digunakan untuk hal-hal yang produktif dan bermanfaat baik bagi dirinya, keluarganya, masyarakat, bangsa dan negara. Tidak menggunakan waktunya untuk sesuatu yang sia-sia dan tidak bermanfaat.

Simbol berupa 'Joglo mini' itulah harapan kita sebagaimana makna filosofis diatas. Simbol 'Joglo mini' tersebut selaras dan sesuai dengan visi Kabupaten Magetan yaitu 'Terwujudnya kesejahteraan masyarakat Magetan yang adil dan bermartabat'. Selaras dengan tujuan pembangunan daerah yang ingin diraih yaitu 6 W (Wareg, Waras, Wasis, Wutuh, Widodo, dan Waskita).

Masyarakat Magetan yang sejahtera lahir dan batin yaitu masyarakat yang memiliki jiwa santri. Masyarakat yang menghargai waktunya untuk terus berkarya, produktif, dan bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Untuk mewujudkan semua itu tentu dengan jalan menjaga persatuan, kebersamaan, dan saling tolong-menolong dalam kebaikan.


Sumber : Herdoniwahyono.com


Diberdayakan oleh Blogger.