Teknologi Pencegah Kecelakaan

Pada awal tahun 2012 ini, telah terjadi beberapa kali kasus kecelakaan kendaraan yang menelan banyak korban jiwa. Mulai dari insiden bus Sumber kencono yang mengalami kecelakaan di Magetan, insiden xenia maut di Tugu Tani Jakarta, sampai insiden bus Karunia Bakti di Puncak Bogor yang menelan 13 korban meninggal dunia.

Berbagai asumsi mulai bermunculan menanggapi maraknya kasus kecelakaan ini. Mulai dari anggapan pengelola bus yang lalai, ulah supir yang ugal-ugalan, sampai pada asumsi bahwa itu semua adalah dampak pungli yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Sehingga biaya yang seharusnya digunakan untuk perawatan kendaraan, habis untuk membayar pungli.

Terlepas dari penyebab kecelakaan itu human eror atau memang kondisi kendaraan yang tak layak jalan. Yang jelas harus ada usaha untuk meminimalisirnya. Belakangan ini, ada terobosan baru dalam bidang teknologi otomotif untuk menjawab berbagai persoalan tersebut. Yakni terobosan Teknologi Pencegah kecelakaan (TPK).

TPK Terbaru


Menurut penelusuran penulis, Sedikitnya ada sekitar sepuluh teknologi baru yang telah ditemukan oleh para ahli. Yang tujuan dari penciptaan teknologi itu adalah untuk meminimalisr tingkat kecelakaan pada kendaraan. Khususnya kendaraan roda empat.

Terobosan teknologi itu adalah; Pertama, Rear Traffic Crossing. Ini adalah sebuah teknologi sistem radar yang diaktifkan setiap mobil berada pada posisi terbalik, radar ini akan memperingatkan pengemudi jika ada mobil yang mendekat dari belakang dengan memunculkan ikon dan bunyi-bunyi tertentu.

Kedua, Inflatable Seat Belts, ini adalah teknologi yang berbentuk sabuk pengaman karet berisi dengan gas dingin untuk melindungi penumpang dari dampak kecelakaan. Ketika sensor mendeteksi dampak kecelakaan, kantung udara di dalam sabuk ini akan mengembang dan melindungi penumpang dari impact akibat tabrakan.

Ketiga, Enhanced Heads-Up Display. Teknologi ini menggabungkan antara penggunaan navigasi, night vision, dan laser untuk menerangi jalan jika tidak terlihat jelas atau jalanan berkabut. kamera inframerah di dalam kendaraan akan mengidentifikasi ujung jalan, dan laser akan menampilkannya pada kaca depan pengemudi. Sistem ini juga dapat mengidentifikasi hewan atau pejalan kaki yang tidak terlihat dengan mata telanjang. Bahkan teknologi ini bisa menyorot tanda-tanda batas kecepatan.

Keempat, Collision Warning with Brake Assist. Teknologi ini akan membantu pengemudi untuk menghindari tabrakan dengan mobil yang berada di depannya. Sensor radar dapat mendeteksi kendaraan yang bergerak lambat di depan, dan mengirim sinyal "visual heads-up" dan memperingatkan pengemudi akan risiko tabrakan. Jika pengemudi tidak bereaksi dengan cepat, sistem ini bahkan dapat mengaktifkan rem secara otomatis.

Kelima, Wrong Way Driver. Teknologi ini burfungsi untuk memperingatkan pengemudi jika masuk ke jalur yang salah. Melalui sistem navigasi mobil, teknologi ini mengirim peringatan suara atau gambar jika berada pada jalur yang salah. Jika pengemudi tetap berada di jalur yang salah, pada sistem navigasi akan muncul peringatan dan peta yang menandakan jalur yang salah.

Keenam, Pedestrian Detection. Teknologi ini menawarkan sistem radar yang memperingatkan pengemudi jika mendeteksi pejalan kaki di depan mobil, dan kemudian secara otomatis mengerem jika pengemudi  gagal untuk merespon dengan cepat. Teknologi ini dapat menghindari tabrakan dengan pejalan kaki pada kecepatan sampai sekitar 22 kilometer per jam. Pada kecepatan yang lebih, setidaknya akan meminimalkan dampak tabrakan.

Ketujuh, Blind-Spot Detection. Teknologi ini  akan memperingatkan pengemudi jika ada kendaraan yang berada pada "blind spot" atau area yang tidak terlihat oleh pengemudi. Sebuah icon mobil akan muncul pada kaca sein dan akan mengeluarkan bunyi yang beraturan.

Kedelapan, Drowsiness Detector. Ini adalah teknologi yang bekerja jika pengemudi merasa ngantuk. mengantuk seringkali terjadi pada pengemudi yang sedang dalam perjalanan jauh. Teknologi ini mampu memonitor 70 parameter yang berbeda untuk mendeteksi kelelahan. Jika rasa kantuk terdeteksi, sebuah icon cangkir kopi dan tulisan "waktunya untuk beristirahat" akan muncul di panel dashboard mobil, diiringi dengan bunyi alarm untuk memperingati pengemudi agar tidak ketiduran sewaktu menyetir.

Kesembilan, Traffic Jam Cam. Teknologi ini memungkinkan pengguna melihat kondisi lalu lintas di jalan raya dan jalan-jalan utama melalui video, bukan mengandalkan laporan dari radio. Sekarang ini, teknologi ini dijual sebagai sebuah aplikasi untuk perangkat genggam portabel, tapi akhirnya bisa diintegrasikan langsung ke dalam kendaraan.

Kesepuluh, Lane Keeping Assist. Teknologi ini berfungsi untuk memperingatkan pengemudi agar tidak berpindah ke jalur lain. dalam mobil Marcedes E-Class terbaru misalnya, terdapat kamera di kaca depan mobil yang berfungsi mengenali tanda-tanda di jalan (garis putih lurus/patah-patah). jika sistem mendeteksi mobil berpindah jalur tanpa sengaja, roda kemudi akan akan bergetar tiga kali (http://forum.vivanews.com).

Patut dicoba


Dengan munculnya berbagai terobosan ini, ada baiknya para pengusaha transportasi dan produsen kendaraan mulai melirik teknologi ini. Tak ada salahnya mencoba sebagai upaya untuk melindungi konsumen dari bahaya kecelakaan.

Namun yang perlu menjadi catatan bersama adalah dengan hadirnya beragam teknologi ini, bukan berarti persoalan kecelakaan kendaraan telah selesai. Keberadaan berbagai teknologi ini hanya menjadi tambahan solusi bagi langkah pengurangan kasus kecelakaan saja. Bagaimanapun, peran manusia sebagai pengguna kendaraan tetap yang utama.


*Aktivis HMI, Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang


Diberdayakan oleh Blogger.