Padi Magetan Terserang Penyakit

Ngariboyo - Ratusan hektar tanaman padi milik petani di wilayah Kecamatan Ngariboyo, terserang penyakit aneh. Padi yang masih kurang umur terpaksa dipanen dari pada petani tidak mendapatkan hasil. Diduga, meranggasnya tanaman padi itu karena efek pupuk kimiawi yang selama ini dipakai.

"Sepekan lalu, butir-butir padi masih berisi. Tapi sekarang sudah kopong (tidak berisi) dan fisiknya gosong. Malah sebagian mati," kata Budi warga Desa/Kecamatan Ngariboyo, kepada Surya, Senin (18/2/2013).

Budi tidak menampik kalau ini efek dari tingginya curah hujan, sehinggga pupuk kimiawi yang dipakainya tidak bisa terurai dan merubah unsur kimiawinya.

"Bisa saja karena pupuk kimia yang kami pakai berubah unsur kimianya. Karena banyak air hujan yang menggenangi tanaman padi, sehingga pupuk tidak bisa diserap tanah dan membuat tanaman jadi gosong," kata guru sekolah dasar ini.

Karena, lanjut Budi, sampai hari ini Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Magetan juga belum bisa menemukan jenis hama atau penyakit dari padi ini. "Kita terpaksa panen lebih awal dari biasanya. Kalau biasanya kita panen saat umur 90 - 95 hari, tapi ini baru 70 hari kita panen. Ini untuk antisipasi kerugian yang lebih besar,"katanya.

Dengan serangan penyakit tanaman padi ini, petani merugi hampir 100 persen, Kalau biasanya bisa membawa pulang gabah kering sawah (GKS) sebanyak 4,5 ton setiap hektarnya. Kini hanya bisa membawa 4 - 5 kuintal.

"Akibat panenan prematur ini, nanti akan berakibat pada pembenihan padi musim tanam mendatang," jelasanya.

Ia berharap, pemerintah kabupaten (Pemkab) bisa membantu petani agar tidak semakin merugi dengan menaikan harga gabah dipasaran. "Kita hanya bisa memohon pemerintah bisa menaikan harga gabah. Dengan kenaikan harga gabah, paling tidak bisa ikut membiayai untuk musim tanam mendatang,"kata Budi, yang mengaku hampir seluruh tanaman padinya dilahan seluas empat hektar hampir seluruhnya terkena penyakit ini.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Magetan Edy Suseno membenarkan gosongnnya tanaman padi itu, karena kebanyakan pupuk kimia yang dipakai petani. "Prinsipnya kebanyakan pupuk kimia terutama urea, menyebabkan padi terlalu subur daunnya.Dan ini tanaman padi mudah terserang hama dan penyakit seperti wereng, potong leher dan kresek daun. Kecuali itu, gabahnya juga kurang bobot atau kurang bernas,"jelas Edy.

Namun begitu Edy masih belum bisa memastikan penyebab ratusan hektar tanaman padi milik warga di Kecamatan Ngariboyo yang meranggas terkena penyakit aneh itu. "Maaf kalau tidak melihat langsung tanamannya, saya sulit memberikan komentar. Takut salah. Mungkin ada penyebab lain," tandas Edy. 
 
 
 
MAGETAN - Ratusan hektar tanaman padi milik petani di wilayah Kecamatan Ngariboyo, terserang penyakit aneh. Padi yang masih kurang umur terpaksa dipanen dari pada petani tidak mendapatkan hasil. Diduga, meranggasnya tanaman padi itu karena efek pupuk kimiawi yang selama ini dipakai.

"Sepekan lalu, butir-butir padi masih berisi. Tapi sekarang sudah kopong (tidak berisi) dan fisiknya gosong. Malah sebagian mati," kata Budi warga Desa/Kecamatan Ngariboyo, kepada Surya, Senin (18/2/2013).

Budi tidak menampik kalau ini efek dari tingginya curah hujan, sehinggga pupuk kimiawi yang dipakainya tidak bisa terurai dan merubah unsur kimiawinya.

"Bisa saja karena pupuk kimia yang kami pakai berubah unsur kimianya. Karena banyak air hujan yang menggenangi tanaman padi, sehingga pupuk tidak bisa diserap tanah dan membuat tanaman jadi gosong," kata guru sekolah dasar ini.

Karena, lanjut Budi, sampai hari ini Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Magetan juga belum bisa menemukan jenis hama atau penyakit dari padi ini. "Kita terpaksa panen lebih awal dari biasanya. Kalau biasanya kita panen saat umur 90 - 95 hari, tapi ini baru 70 hari kita panen. Ini untuk antisipasi kerugian yang lebih besar,"katanya.

Dengan serangan penyakit tanaman padi ini, petani merugi hampir 100 persen, Kalau biasanya bisa membawa pulang gabah kering sawah (GKS) sebanyak 4,5 ton setiap hektarnya. Kini hanya bisa membawa 4 - 5 kuintal.

"Akibat panenan prematur ini, nanti akan berakibat pada pembenihan padi musim tanam mendatang," jelasanya.

Ia berharap, pemerintah kabupaten (Pemkab) bisa membantu petani agar tidak semakin merugi dengan menaikan harga gabah dipasaran. "Kita hanya bisa memohon pemerintah bisa menaikan harga gabah. Dengan kenaikan harga gabah, paling tidak bisa ikut membiayai untuk musim tanam mendatang,"kata Budi, yang mengaku hampir seluruh tanaman padinya dilahan seluas empat hektar hampir seluruhnya terkena penyakit ini.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Magetan Edy Suseno membenarkan gosongnnya tanaman padi itu, karena kebanyakan pupuk kimia yang dipakai petani. "Prinsipnya kebanyakan pupuk kimia terutama urea, menyebabkan padi terlalu subur daunnya.Dan ini tanaman padi mudah terserang hama dan penyakit seperti wereng, potong leher dan kresek daun. Kecuali itu, gabahnya juga kurang bobot atau kurang bernas,"jelas Edy.

Namun begitu Edy masih belum bisa memastikan penyebab ratusan hektar tanaman padi milik warga di Kecamatan Ngariboyo yang meranggas terkena penyakit aneh itu. "Maaf kalau tidak melihat langsung tanamannya, saya sulit memberikan komentar. Takut salah. Mungkin ada penyebab lain," tandas Edy.   - See more at: http://surabaya.tribunnews.com/2013/02/18/padi-magetan-terserang-penyakit#sthash.brtFJMfk.dpuf
MAGETAN - Ratusan hektar tanaman padi milik petani di wilayah Kecamatan Ngariboyo, terserang penyakit aneh. Padi yang masih kurang umur terpaksa dipanen dari pada petani tidak mendapatkan hasil. Diduga, meranggasnya tanaman padi itu karena efek pupuk kimiawi yang selama ini dipakai.

"Sepekan lalu, butir-butir padi masih berisi. Tapi sekarang sudah kopong (tidak berisi) dan fisiknya gosong. Malah sebagian mati," kata Budi warga Desa/Kecamatan Ngariboyo, kepada Surya, Senin (18/2/2013).

Budi tidak menampik kalau ini efek dari tingginya curah hujan, sehinggga pupuk kimiawi yang dipakainya tidak bisa terurai dan merubah unsur kimiawinya.

"Bisa saja karena pupuk kimia yang kami pakai berubah unsur kimianya. Karena banyak air hujan yang menggenangi tanaman padi, sehingga pupuk tidak bisa diserap tanah dan membuat tanaman jadi gosong," kata guru sekolah dasar ini.

Karena, lanjut Budi, sampai hari ini Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Magetan juga belum bisa menemukan jenis hama atau penyakit dari padi ini. "Kita terpaksa panen lebih awal dari biasanya. Kalau biasanya kita panen saat umur 90 - 95 hari, tapi ini baru 70 hari kita panen. Ini untuk antisipasi kerugian yang lebih besar,"katanya.

Dengan serangan penyakit tanaman padi ini, petani merugi hampir 100 persen, Kalau biasanya bisa membawa pulang gabah kering sawah (GKS) sebanyak 4,5 ton setiap hektarnya. Kini hanya bisa membawa 4 - 5 kuintal.

"Akibat panenan prematur ini, nanti akan berakibat pada pembenihan padi musim tanam mendatang," jelasanya.

Ia berharap, pemerintah kabupaten (Pemkab) bisa membantu petani agar tidak semakin merugi dengan menaikan harga gabah dipasaran. "Kita hanya bisa memohon pemerintah bisa menaikan harga gabah. Dengan kenaikan harga gabah, paling tidak bisa ikut membiayai untuk musim tanam mendatang,"kata Budi, yang mengaku hampir seluruh tanaman padinya dilahan seluas empat hektar hampir seluruhnya terkena penyakit ini.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Magetan Edy Suseno membenarkan gosongnnya tanaman padi itu, karena kebanyakan pupuk kimia yang dipakai petani. "Prinsipnya kebanyakan pupuk kimia terutama urea, menyebabkan padi terlalu subur daunnya.Dan ini tanaman padi mudah terserang hama dan penyakit seperti wereng, potong leher dan kresek daun. Kecuali itu, gabahnya juga kurang bobot atau kurang bernas,"jelas Edy.

Namun begitu Edy masih belum bisa memastikan penyebab ratusan hektar tanaman padi milik warga di Kecamatan Ngariboyo yang meranggas terkena penyakit aneh itu. "Maaf kalau tidak melihat langsung tanamannya, saya sulit memberikan komentar. Takut salah. Mungkin ada penyebab lain," tandas Edy.   - See more at: http://surabaya.tribunnews.com/2013/02/18/padi-magetan-terserang-penyakit#sthash.brtFJMfk.dpuf
Diberdayakan oleh Blogger.